Halaman

Kamis, Desember 28, 2023

DAFTAR PEMILIH TETAP (DPT) PEMILU 2024 SEBANYAK 204.807.222 PEMILIH

Jakarta, kpu.go.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 

*DAFTAR PEMILIH TETAP (DPT) PEMILU 2024 SEBANYAK 204.807.222 PEMILIH.*

Pemilih di 38 Provinsi sbb:
1. Aceh 3.749.037
2. SumUt 10.853.940
3. SumBar 4.088.606
4. Riau 4.732.174
5. Jambi 2.676.107
6. SumSel 6.326.348
7. Bengkulu 1.494.828
8. Lampung 6.539.138
9. Bangka Belitung 1.067.434 
10. Kep Riau 1.500.974
11. DKI Jakarta 8.252.897
12. Jawa Barat 35.714.901
13. Jawa Tengah 28.289.413
14. DI Yogyakarta 2.870.974
15. Jawa Timur 31.402.838
16. Banten 8.842.646
17. Bali 3.269.516
18. NTB 3.918.291
19. NTT 4.008.475
20. KalBar 3.958.561
21. KalTeng 1.935.116
22. KalSel 3.025.220
23. KalTim 2.778.644
24. KalUt 504.252
25. SulUt 1.969.603
26. SulTeng 2.236.703
27. SulSel 6.670.582
28. SulTeng 1.867.931
29. Gorontalo 881.206
30. Sulawesi Barat 985.760
31. Maluku 1.341.012
32. MalUt 953.978
33. Papua 727.835
34. Papua Barat 385.465
35. Papua Selatan 367.269
36. Papua Tengah 1.128.844
37. Papua Pegunungan 1.306.414
38. Papua Barat Daya 440.826 

_Pemilih dalam negeri_ 
(514 kab/kota, 7.277 kecamatan, 83.731 desa/kelurahan, 820.161 TPS):
pemilih laki-laki 101.467.243, pemilih perempuan 101.589.505 ➡️pemilih di dalam negeri se-Indonesia *203.056.748*.

_Pemilih luar negeri_
(128 negara perwakilan, dengan jumlah PPLN, KSK dan Pos sebanyak 3.059)
pemilih laki-laki 751.260, perempuan 999.214,
➡️pemilih di luar negeri: *1.750.474*.

_Rekap nasional_
(pemilih dalam dan luar negeri dengan 514 kab/kota, 128 negara perwakilan, jumlah kecamatan 7.277, jumlah desa/kelurahan 83.731, jumlah TPS/TPSLN, KSK, Pos 823.220)
pemilih laki-laki 102.218.503
pemilih perempuan 102.588.719

➡️Total pemilih laki-laki dan perempuan *204.807.222*


Selasa, Desember 19, 2023

BERGURU KEPADA SALAF

*BERGURU KEPADA SALAF (7)*

Oleh: Irsyad Syafar

Beliau ada salah seorang tokoh di Madinah, dan salah satu pemimpin dari Bani Salamah, semenjak sebelum Islam. Beliau figur yang sangat dihormati disana. Namanya Amru bin Aljamuh bin Zaid Al Anshary. Beliau juga ipar dari Sahabat yang mulia, Abdullah bin Amru bin Al Haraam.

Beliau tidaklah termasuk yang awal-awal masuk Islam dikalangan Anshar. Ketika Mush'ab bin Umair diutus Rasulullah berdakwah ke Madinah, dan banyak orang berbondong-bondong masuk Islam, Amru bin Jamuh sendiri tidak mudah segera menjadi muslim. Padahal sudah banyak keluarganya yang masuk Islam.

Saat orang-orang Madinah dan kerabatnya sudah banyak yang masuk Islam, Amru masih saja menyembah berhala. Ia punya berhala "manaf" yang dibuatkannya ruangan khusus. Berulang kali kerabatnya "ngerjain" berhalanya ini di malam hari, agar dia sadar dan mau masuk Islam. Tapi belum berhasil juga. 

Sampai akhirnya suatu malam "simanaf" ini diambil mereka lalu dipatah-patahkan dan diikatkan ke bangkai lalu dibuang ke lobang sumur. Itu tujuannya untuk menyampaikan kepada beliau bahwa benda ini tak layak jadi tuhan. Sebab, membela diri sendiri saja gak bisa. Apalagi akan menolong orang banyak.

Di tahun kedua hijriyah Amru bin Jamuh masuk Islam. Sebenarnya beliau ingin ikut berangkat dalam perang Badar. Tapi karena beliau kakinya "pincang" maka anak dan keluarganya melarang. Dan dua anak bujangnya, Muadz dan Mu'awidz bin Amru ikut dalam barisan pasukan Rasulullah Saw. Dan kita sudah tahu bahwa Muadz anak beliau adalah salah satu bintang atau pahlawan perang badar. Sebab dia berhasil membunuh Abu Jahal.

Pada tahun ke 3 hijriyah, menjelang akan perang Uhud, Beliau juga ingin ikut berperang. Tapi lagi-lagi anak dan keluarga melarang. Sebab Allah sudah kasih keringanan bagi yang "pincang" tidak wajib lagi ikut berjihad. Dan diapun sudah diwakili oleh anak-anaknya yang ikut sebagai pasukan Rasulullah. Kali ini Amru bin Jamuh gak mau ditolak lagi. Dia berkata: "Tidak bisa, mereka bisa pergi ke surga, saya duduk saja disini!"

Lalu beliau berangkat menghadap Rasulullah minta izin untuk ikut berjihad. Anak-anaknya mengejar dari Belakang. Setelah sampai di hadapan Rasul, Amru "curhat" kepada Beliau: "Wahai Rasulullah, anak-anak saya menghalangi saya ikut berjihad. Tapi saya juga ingin menginjak surga dengan kaki saya yang pincang ini." Maka Rasulullah mengizinkannya dan mendoakannya dapat mati syahid.

Dalam musnad Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Amru bertanya kepada Rasulullah Saw: "Jika aku berperang lalu terbunuh dalam jihad ini, apakah aku masuk surga dengan kaki kembali sehat?" Rasulullah menjawab, "Ya." Lalu Amru masti syahid di perang Uhud tersebut. Ketika Rasulullah Saw melewati jenazahnya, Beliau berkata: "Seolah-olah aku menyaksikan kakinya sudah sehat (normal) berjalan di surga." (HR Ahmad, dishahihkan Albany). 

Kemudian Amru bin Jamuh dikuburkan dalam satu liang dengan iparnya Abdullah bin Al Haram. Karena keduanya sahabat yang sangat dekat dan saling mencintai karena Allah. 46 tahun setelah peristiwa itu, terjadilah banjir besar dikawasan pekuburan Uhud, sehingga membongkar kuburan-kuburan tersebut. Abdullah bin Jabir bin Alharam menceritakan bahwa jasad ayahnya dan pamannya itu masih utuh, segar dan lunak. Wajah keduanya penuh senyuman dan redha. Seolah-olah keduanya sedang tidur. (Diceritakan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Dalail Nubuwwah, dan juga terdapat dalam riwayat Malik bin Anas).


Pelajaran
========

1. Generasi salaf itu memiliki semangat jihad yang luar biasa. Bahkan saat mereka sudah dapat rukhshah-pun mereka tetap berebut untuk pergi berjihad. Sebab mereka juga ingin meraih mati syahid dan mendapatkan hadiah surga. Sementara, tiket surga memang lebih banyak tersedia dibawah "kilatan pedang".

2. Amru bin Jamuh dan Abdullah bin Al Haram berukhuwwah dengan kuat. Maka mereka dimuliakan Allah dengan syahid bersama, dan dimuliakan Rasul dengan dikubur bersama juga. Betapa mulianya berukhuwwah dan bersaudara karena Allah. Saling mencintai karena sesama muslim. Bukan karena fanastime organisasi atau kelompok pengajian. Dengan ukhuwwah seperti itu generasi salaf mendapatkan perlakuan-perlakuan khusus dari Allah dan RasulNya.

3. Keterbatasan seseorang, baik berupa fisik ataupun yang lainnya, tidak menghalanginya untuk bisa berkontribusi maksimal bagi Islam dan kaum muslimin, dan kemudian bisa meraih derjat yang mulia disisiNya. Karenanya, mukmin yang cerdas itu selalu mencari berbagai alasan untuk bisa berkontribusi dan ikut serta dalam berjuang. Bukan sebaliknya, mencari-cari alasan atau dalih untuk tidak mau berjuang dan berkorban.

Kalau orang munafiq, mereka kadang berteriak-teriak seolah-olah terdepan membela Islam. Tapi saat datang seruan jihad dan panggilan untuk berjuang, mereka berpaling dan menghindar. Bila para pejuang kalah, mereka akan berkomentar, "Tu kan, kami sudah bilang, kalian gak mau dengar masukan dan masehat kami. Akibatnya kalian banyak yang mati."

4. Abdullah bin Jabir adalah Sahabat. Dia hidup sampai setelah masa Khalifah Ali bin Abi Tahlib. Ia menyaksikan jasad (jenazah) ayah dan pamannya setelah 46 tahun masih utuh, lunak dan segar, tidak rusak sama sekali. Bahkan diwajahnya terlihat guratan senyum dan redha. Ini merupakan bukti dari firman Allah yang menyatakan bahwa para syuhada itu tidaklah mati. Melainkan mereka tetap hidup, diberi rezki oleh Allah. Akan tetapi kita tidak mengetahuinya. (Terdapat dalam QS Ali Imran: 169).

Oleh karena itu, kita tidak perlu sedih dan menangisi orang-orang yang mati syahid (syuhada) dalam medan jihad. Apalagi kalau ada yang sampai menyesalinya. Itu sangatlah keliru. Sesalilah diri kita kalau belum ikut serta dalam berjuang dan berkorban.

Waffaqanallahu Waiyyakum ajma'in.

Selasa, Desember 05, 2023

Doni Monardo

Doni Monardo

Oleh: Dahlan Iskan
Selasa 05-12-2023

Momen ketika Dahlan Iskan bertemu dengan Doni Monardo, saat almarhum menjabat Ketua BNPB.--

KETIKA bertemu lagi tahun lalu saya pangling. Ia terlihat lebih muda, segar, dan lebih gagah. Setelah bersalaman barulah saya ingat senyumnya: Letjen TNI Doni Monardo.

Saya lama memandangi wajahnya. Apa yang menyebabkan berubah. Waktu itu beliau hadir dalam acara pembukaan pabrik plastik ramah lingkungan berbahan baku singkong. Di Tangerang.

Beliau memberi ceramah tentang jahatnya plastik bagi lingkungan. Ada juga Ahok di situ.

Rupanya beliau melihat saya sedang heran mengamati wajah dan tubuhnya. "Rambut saya yang berubah, Pak," kata Doni.

Benar. Itulah yang membuat Doni tampak lebih muda dan segar. Rambutnya lebat. Tidak lagi botak. Warnanya hitam. Tidak ada putihnya. Sisirannnya rapi, dengan ukuran rambut yang tidak terlalu pendek.

"Kalau Pak Dahlan mau, nanti saya kirimi obatnya," katanya. Rupanya Pak Doni melihat rambut saya mulai menipis. Juga mulai terlihat botak di bagian dekat ubun-ubun. Sudah pula lebih banyak ubannya.

Seminggu kemudian saya menerima kiriman paket. Dari membaca nama pengirimnya saya sudah bisa menebak isinya: obat penumbuh rambut. Saya buka. Banyak sekali. Di botol-botol kecil ukuran sekitar 100 cc.

Saya pun memotret kiriman itu. Fotonya saya kirim ke beliau, dengan ucapan terima kasih. Saya berjanji untuk memakainya tanpa menyebut mulai kapan.

Janji itu belum saya penuhi. Sampai beliau meninggal dunia hari Minggu sore lalu dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata kemarin siang.

Anda sudah tahu: komandan upacara pemakaman itu adalah Kepala Staf TNI-AD yang baru: Jenderal Maruli Simanjuntak.

Maruli adalah junior Doni di Kopassus. Waktu Doni menjabat Danjen Kopassus, Jenderal Maruli masih letnan.

Waktu itu Doni punya program unggulan: anggota Kopassus-muda harus jadi juara di bidang masing-masing. Ada judo. Karate. Mendaki gunung. Dan banyak lagi.

Maruli adalah juara judo.

Lalu Pangdam Tanjungpura sekarang Mayjen TNI Iwan Setiawan juara mendaki gunung. Tim Mayjen Iwan membuat sejarah bagi Indonesia: berhasil mencapai puncak Everest. Bendera merah putih berkibar di sana. Kopassuslah pengibarnya.

Sebelum pertemuan di pabrik plastik ramah lingkungan itu saya bertemu Pak Doni di pusat pengendalian Covid-19. Beliau adalah panglima tertinggi pengendalian Covid-19. Beliau adalah kepala BNPB –Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Setelah menjalani berbagai tes saya diizinkan masuk ke ruang kerjanya. Itu adalah juga tempat tinggal beliau. Selama menjadi komandan pengendalian Covid-19 beliau tidak pernah pulang. Tidur di sebelah ruang kerja itu: tempat tidur lipat yang biasa dipakai di barak tentara. Waktu beliau habis untuk urusan Covid-19. Siang-malam.

BACA JUGA:Vaksin

Itulah Doni Monardo. Anak Minang yang lahir di Cimahi, dekat Bandung. Ayahnya tentara. Pindah-pindah. Pun Doni. Ia menyelesaikan SMA-nya di Padang. Lalu masuk akademi militer di Magelang. Angkatan 1985.

Pangkat terakhir Doni lebih tinggi dari peraih Adhi Makayasa tahun itu: I Made Agra Sudiantara. Doni bintang tiga. Made bintang dua.

Made juga tidak pernah jadi pangdam. Sedang Doni dua kali jadi pangdam: di Pattimura, Maluku dan di Siliwangi, Jawa Barat.

Made meninggal dunia di umur 50 tahun, sekitar 10 tahun lalu. Doni meninggal di usia 60 tahun 3 Desember tahun ini.

Di semua jabatannya itu Doni seperti habis-habisan. Namanya pun menjadi lebih besar dari jabatannya –untuk meminjam istilah Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Farid Makruf yang sebentar lagi pindah ke Jakarta menjabat Kaskostrad.

Waktu jadi pangdam Siliwangi, Doni menjalankan proyek besar sekali di bidang lingkungan hidup: membersihkan alur sungai Citarum. Menyeluruh. Di sepanjang wilayah Jawa Barat. Tidak hanya sungainya yang dibersihkan. Pinggirnya juga dihijaukan. Agar erosi yang masuk Citarum terkendali.

Doni adalah pecinta pohon. Levelnya: gila tanaman. Doni-lah yang menanam begitu banyak trembesi di lingkungan bandara Lombok. Setiap ke bandara Lombok saya seperti bertemu Pak Doni. Pun di bandara Hasanuddin Makassar. Penuh pohon trembesi. Doni-lah yang menanamnya.

Di mana saja Doni menanam pohon. Teman-temannya dikirimi bibit pohon buah unggulan.

Belakangan Doni merambah program menggalakkan pembiakan pohon langka. Egy Massadiah punya daftar pohon langka yang dikembangkan Dony.

Egy adalah wartawan, penulis buku dan teman dekat banyak perwira tinggi.

Waktu saya ke pusat pengendalian Covid-19, Egy juga terlihat bersama Pak Doni.

Egy juga tidak pernah pulang. Bahkan ketika helikopter Pak Doni terombang-ambing angin ribut di pulau Miangas, Egy ada di dalam helikopter itu. Pak Doni selamat dari kecelakaan heli yang akan bisa menewaskannya.

Pak Doni selamat. Pun dalam badai Covid-19, Pak Doni juga selamat. Tapi Pak Doni sebenarnya kurang sehat. Sejak lama. Sejak hampir 10 tahun lalu. Kalau saja beliau sehat rasanya akan bisa jadi KSAD. Atau panglima TNI.

Pak Doni punya masalah kesehatan yang umum dialami banyak laki-laki berumur: prostat.

Saya termasuk yang menyarankan agar beliau dioperasi di Singapura tanpa takut dinilai kurang nasionalis. Itu karena teman saya, orang Singapura, baru saja berhasil mengatasi kanker prostat dengan cara operasi.

Penderita kanker prostat baiknya jangan menunda operasi. Pun bila dilakukan di dalam negeri. Kian telat kian sulit diatasi.

Kondisi beliau pun kian kurang baik. Pembuluh darah di otaknya pecah. Tidak sadarkan diri. Setelah 2,5 bulan di rumah sakit beliau meninggalkan kita selamanya.

Jasanya begitu besar bagi bangsa. Penduduk Indonesia hampir sama dengan Amerika. Ekonomi Indonesia jauh sekali di bawah Amerika. Tapi korban Covid-19 Indonesia begitu sedikit dibanding Amerika.

Pak Doni termasuk yang mendukung pemerintah untuk tidak melakukan lockdown secara nasional di saat Covid-19. Kebijakan itu akhirnya terbukti berhasil.

Doni Monardo ikut menyelamatkan kita semua. Pun di saat beliau sendiri sebenarnya sudah tahu: kanker sedang mengancam keselamatannya.(Dahlan Iskan)